04 Januari 2010
Travel to Badur (Part 2)
03 Januari 2010
Travel to Badur (Part 1)
12 November 2009
Crazy Journey (part 2 of 2)
[sambungan dari sebelumnya…]
Setelah beberapa kali di hentikan lampu merah dan gadis berkerudung merah, akhirnya saya dan sepupu jauh saya sampai juga ke tujuan kedua; rumah temannya sepupu jauh saya. Sebelum memasuki pekarangan rumahnya (yang cuma setengah meter kurang), saya sudah menebak-nebak bagaimana wajah si pemilik rumah ini yang juga teman sepupu jauh saya. Beberapa wajah penghuni kebun binatang sempat berkelabat di otak, tapi dengan cepat saya buang ke tong sampah depan rumahnya.
Sekitar 10 menitan menunggu si empunya rumah, akhirnya keluar juga. Daaaaaaaaaan… wajahnyaaa… apa hendak dikata tapi tangan tak sampai, TERNYATA ORANG ARAB YANG UDAH UBANAN!!! Aaaaaaaaaa!!! Gagal deh saya ajak kawin anak perempuannya. Hehehe… (soalnya dia cerai dan anaknya dibawa istrinya, bukan karena dia orang Arab yang udah ubanan, ingat itu!)
Setelah kita salaman, basa-basi bentar dengan sepupu jauh saya, akhirnya dia masuk lagi kedalem dan keluar dengan membawa satu ceret teh hangat dan beberapa gelas mungil. Naluri binatang saya muncul. Dan dengan biadabnya saya menghabiskan teh hangat yang disajikan. Perbandingannya 3:1. Saya sudah habis tiga gelas, mereka berdua baru satu gelas. Huehehe…
Mungkin karena kelakuan saya yang bisa merugikan tuan rumah, cepat-cepat Orang Arab Teman Sepupu Jauh Saya (OATSJS) mengajak mengobrol. Setelah saling tau nama masing-masing, diapun mulai menanyakan alamat, kelas, dan lainnya. Bakat usil sayapun muncul.
OATSJS: sekarang sudah kelas berapa?
Saya: (dengan wajah stay cool) sudah semester 3. (hahahaha!!!)
OATSJS: (dengan wajah kaget) Ooh, sudah semester tiga. Kuliah dimana kamu?
Saya: di Institut Nama Disamarkan Biar Tidak Merusak Nama Baik (INDBTMNB).
Sepupu jauh saya: (tertawa dalam hati)
OATSJS: Oo, ya ya. Di INDBTMNB masuk fakultas apa?
Saya: (celingukan) emm… Adab!
OTSJS: ya-ya. Kalo’ di fakultas adab yang dipelajari apa aja?
Saya: (mulai keluar keringat dingin) em… yah pokoknya banyaklah!
Sepupu jauh saya: (tertawa ditahan)
Agar tidak terbongkar kebohongan saya, saya langsung membalik menanyakan dia.
Saya: kamu sudah berapa lama kenal dengan sepupu jauh saya ini?
OTSJS: Oh, itu sudah dulu, waktu itu bla, bla, bla…
Dan akhirnya terselamatkan juga’ kebohongan biadab saya. Huff… mana ada anak umur 16 udah kuliah di fakultas Adab? Hahaha!!! Rasain tuh!!! Kok mau-maunya dikibulin... huehehe (winner mode: ON).
Dan akhirnya malam itu berjalan seperti biasanya. Dan diapun tidak menanyakan lagi tentang diri saya.
Kira-kira setelah 1 jam disana, tentunya dengan menghabiskan teh yang disediakan, akhirnya kami mohon diri. Malu kalo’ sampe’ dibikinin lagi. Hehehe… Dan kamipun pulang dengan tenang…
Keesokan malamnya, saya kembali bertemu dengan sepupu jauh saya. Setelah basa-basi, dia bilang:
“eh, teman saya yang tadi malam nanya’ kamu lho!”
“emangnya dia lagi dimana?” Tanya saya penasaran.
“dirumah saya…” jawabnya kalem.
Perut saya mules.
11 November 2009
Crazy Journey (part 1 of 2)
Ada 2 hal yang paling saya sukai dalam perjalanan: pertama, saya suka perjalanan pada malam hari, dan kedua, kendaraan yang saya tumpangi nyaman. Pada senin malam (malam selasa) lalu, saya dan sepupu jauh saya (tellopopoh) pergi ke Sumenep dengan menggunakan sepeda bebek berwarna hitam yang ancur banget (SBBHYAB). Untungnya, mesin SBBHYAB masih bisa dikatakan bagus (walau sangat membahayakan bila dimakan), sehingga tidak terlalu mengganggu perjalanan malam itu. Dengan menggunakan kostum sarung merah, kaos hitam, dan jaket hitam plus songkok hitam (bukan nasional), saya berangkat dengan riang gembira memberantas kejahatan ke kota. Sesampainya disana, sesuai tujuan yang dituju sebelum menuju tujuan, kami langsung menuju sebuah toko hempon. yups, benar sodara-sodara, toko hempon!!!(jreeng!!!). anda tidak salah baca, sebuah toko hempon!!! (jreng jreng jreng!!!)
Penampilan saya dan sepupu jauh saya (dia pakai baju koko warna coklat muda, sarung coklat, plus kopyah nasional) rupanya mengundang ketertarikan penduduk untuk menggoda melihat kami secara teliti. Beberapa berbisik-bisik. Beberapa lagi epilepsi. Sesampainya di toko tersebut, rupanya pembeli lumayan sepi, jadi saya bisa langsung menanyakan barang yang dibutuhkan. Begini percakapan singkatnya antara saya dan Mas Yang Saya Ajak Bicara (MYSAB):
Saya (dengan gairah menggebu-gebu): mas, cari’ casing nokia n-gage. Ada?
MYSAB: hah? Apa ya mas?
Saya: anu, cari casingnya n-gage.
MYSAB: apa ya mas?
Saya: cari casingnya n-gage.
MYSAB: Hah?
Aaaaaaaaaarggh!! Rupanya penjaganya rada budek!! Maunya dilanjutkan gini aja:
SAYA MAU BELI BOM ATOM BERADIASI 10 KILOMETER. ADA?!
Tapi ga’ jadi, soalnya Noordin dah mati duluan. Jadi percakapanya berlanjut begini:
Saya: saya.cari.casing.nokia.n-gage. Ada? (dengan penekanan setiap katanya)
MYSAB: Ooo, ini mas…
Saya: saya cari’ casing mas, bukan charge mas…
MYSAB: (diam)
Saya: (diam)
Setelah sekitar 5 menitan, akhirnya saya berani menyimpulkan: Rupanya nih orang selain budek, otaknya rada lemot!! Aaaaaaaaaaarrgh!!
MYSAB: Ooo, casing mas, ini mas… (sambil menyodorkan setumpuk casing n-gage)
Saya: (misuh-misuh)
Setelah selesai melihat casingnya (yang rupanya ga’ ada yang cocok), saya langsung ngajak sepupu jauh saya untuk segera meninggalkan toko. Walaupun sebenarnya masih butuh beberapa barang lagi. Yah, mengingat penjaganya, saya langsung bad mood duluan.
Karena ga’ dapet barang yang diincar, maka kami langung saja menaiki SBBHYAB dengan gagah berani menelusuri jalanan kota...
[bersambung…]