25 Juli 2012
07 Oktober 2010
Bulud dan bersepeda pagi
Tau kah anda akan BULUD?
Bahkan google-pun tidak tau BULUD yang saya maksud. (Haha!)
BULUD ini adalah sejenis makanan gorengan yang... Yang... Yang... yang gimana ya?? (Ternyata saya sendiri juga ga' tau mendeskripsikan BULUD...) Intinya, BULUD bukanlah istri PAK LUD, tetapi adalah sejenis ketan yang digoreng dengan tepung (seperti halnya pisang goreng), dan paling enak dimakan ketika masih hangat. Dimakan dengan saus sambal enak, dengan sambal kacang juga enak. Lhaaa... itulah BULUD :)
Kembali ke cerita, jadi ketika pikiran yang amat amat amat mulia itu terlintas, maka bersegeralah mencari kendaraan atau tumpangan yang bisa digunakan untuk beli bulud. (Maklum, 'pabrik' buludnya sekitar 1 kilometer dari rumah... :D)
Pencarian kendaraan-pun dimulai.
Bawa mobil? Ini ter-la-lu. Selain capek yang mau bawa, capek juga yang mau ngisi bensinnya.
Bawa motor? Nah, ini juga. Sebenarnya bukan karena masalah capek ga' capeknya, tapi ini masalah yang lebih mendasar lagi, motornya siapa? Lhaaa...
Akhirnya, setelah banting kanan-banting kiri ga' dapat kendaraan juga, secara tak sengaja, kedua mata saya berhasil menangkap sesosok kendaraan beroda dua tanpa busana: sepeda. Yup, sepeda roda dua. Tanpa motor tanpa spion.
Bawa sepeda? Hm... lumayan menantang. Selain beli bulud, lumayan sambil berolahraga pagi.
Dan seperti yang diperkirakan, benar-benar menantang. Entah kenapa jalan yang biasa saya lewati ketika beli bulud pada dini hari kok terasa lain ya? Jalanan yang biasanya terang tiba-tiba gelap, dini hari yang biasanya sepi tiba-tiba sangat sepi. kucing yang biasanya mengeong tiba-tiba mengeong. Ada yang aneh memang, karena terbiasa bawa sepeda motor, jalanan yang gelap menjadi terang terkena sinar lampu sepeda motor. Nah, sekarang bawa sepeda tanpa motor, mana ada lampunya?
Ya, seperti makan buah simalamakamalamaka: maju takut, mundur sudah terlanjur. Terpaksa, maju... dengan bulu kuduk berdiri semua.
Tikungan pertama masih biasa, jalan terang benderang, tak perlu ada yang ditakutkan. Memasuki tikungan kedua, jalanan mulai gelap, tebing kanan-kiri, dan tentu: sepi. Tak ada lampu, tak ada orang. Lampu jalan yang paling dekat sekitar 50 meter didepan. *glek!* tanpa pikir panjang lagi, maju. Biar ga' takut diakali dengan berkonsentrasi ke jalan. Nah, sesampainya ditikungan ketiga kanan-kiri berganti kuburan. Bukan itu yang sebenarnya saya takutkan, namun jalan yang menurun di-ikuti dengan tikungan tajam tanpa penerengan. Sekali lagi, konsentrasi. Namun orang takut tetaplah takut: bagaimana jika ada pocong yang muncul? Ato tiba-tiba ada gendruwo yang menyetop? Namun yang lebih saya takutkan lagi adalah ketika sekonyong-konyong gitaris kangen band muncul narik-narik baju minta diajari maen gitar. Bayangkan kawan, bayangkan!
Selesai melewati 2 tikungan tajam, tinggal saatnya melewati tikungan terakhir: perempatan. Sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan, namun, saya masih ketakutan dengan gitaris-kangen-band-itu. Bagaimana kalau seandainya dia tiba-tiba muncul diperempatan sambil menyeret-nyeret gitarnya dan mengejar saya? Ah... khayalan yang ter-la-lu. Ter-la-lu menyeramkan.
***
Perjalanan pulang sudah tak begitu menakutkan, tentu setelah belajar dari pengalaman ketika berangkat tadi. Hanya saja masalahnya berubah: tanjakan. Selama naik sepeda motor tak ada masalah. Nah bawa sepeda tanpa motor?
Yah, sebenarnya, tantangan jalan tanjakan tak seberat yang dibayangkan. Ketika saya menjalaninya tak ada masalah. Ya lumayanlah, lumayan bikin ngos-ngosan. Walaupun melelahkan, bersepeda pagi sambil beli bulud adalah hal yang menyenangkan sekaligus menantang... dan sedikit menyeramkan. Mungkin lain kali saya akan mencobanya kembali, beli bulud sambil bersepeda pagi... :)
04 Januari 2010
Travel to Badur (Part 2)
03 Januari 2010
Travel to Badur (Part 1)
20 November 2009
Mobilku sayang, mobilku malang...
Saya dulu punya mobil.
Lebih tepatnya, dulu saya punya gembreng yang bisa jalan dengan empat roda. Intinya: mobil itu adalah mobil pertama saya waktu belajar nyetir. Inti dari intinya: mobil inilah yang dengan biadabnya saya siksa dengan ketidakprimobilan.
Jumlah tabrakan yang diderita mobil ini melebihi jenggot yang tumbuh di ketiak manusia. Segala macam lecet yang pernah dibayangi umat mobil sudah pernah terjadi pada mobil ini. Dan dengan mobil inilah, saya dengan biadabnya mengendarai layaknya mengendarai kuda binal; serong kanan serong kiri. Seandainya saja mobil ini punya nyawa, pasti sudah guling-guling melarikan diri sejauh-jauhnya dari rumah.
Hal pertama yang baru saya tau waktu belajar menyetir: jangan pernah menyetir dengan kaki. Ralat, jangan pernah menyetir dengan sok gaya. Hal inilah yang saya lakukan ketika baru tau menyetir. Dengan pedenya saya tabrak pot bunga. Tidak ada korban jiwa, Cuma kembangnya mati semua. sukses. Tanpa satupun yang ketinggalan.
Tapi, kebrutalan saya dalam menyetir bukannya tanpa hasil.
Perlahan-lahan saya bangun dari keterpurukan. Belajar dari setiap tabrakan. Bagai burung yang baru belajar terbang, saya mendapat pelajaran berharga ketika belajar menyupir mobil. Contohnya, sehabis nabrak pagar deket gerasi, saya belajar bahwa setiap mobil pasti punya rem. Pasti.
mobil yang sukses saya siksa dengan tidak keprimobilan.
Contoh lainnya, ketika saya nabrak pohon di tikungan, saya belajar bahwa jangan lupa belok ditikungan. Ngelindes tukang bakso, saya belajar bahwa tukang bakso berbeda dengan polisi tidur.
Salah seorang teman saya pernah bilang: “tenang aja Wie’, klo belum nabrak artinya kamu belum jago!”. Katanya. Bersemangat.
“berarti saya jago banget dong!”. Kata saya berapi-api. “saya kan dah pernah nabrak pagar garasi, nyium pot bunga, nabrak pohon, ngelindes tukang bakso, nyerempet taksi, nabrak kambing, sampe’ ngacurin lampu depan”.
Dia bengong.
Dia lalu bilang: “kamu tuh gila.”
Fenomena betapa idiotnya saya menyetir ini segera di analisis supir setempat. Suatu hari, setelah saya nabrak untuk kesekian kalinya, seorang supir bilang: wah, hebat banget kamu. Sudah buat bemper depannya penyot, belakangnya hancur, samping kanan-kiri lecet semua… tinggal satu lagi nih, besok pulangnya bannya ada diatas”.
Saya hanya bisa nyengir. Malu.
Selain cara menyetir yang brutal, sikap ketidakprimobilan saya ditunjukkan dengan cara merawat mobil. Bukan merawat mesin atau bodinya, ini lebih ke bensin. Yap, bensin. Saya tidak pernah mengisi bensin lebih dari 5 liter. Paling penuh itu 3 liter, yang paling sering cuma 1 liter, bahkan terkadang setengah liter. Oke, oke, saya tau bahwa saya pasti dilaknat oleh dewa-dewa mobil.
Kebiasaan mengisi 1 liter ini sukses membuat mogok dibeberapa tempat. Terutama ketika saya lagi sendirian. Pernah, suatu waktu mogok di tempat angker, kebetulan saya cuma berdua dengan teman saya. Lalu temen saya bilang: “lain kali saya naik taksi aja, dari pada harus jantungan kayak gini”. Katanya syok. Saya nyengir.
Terakhir saya nyetir sendirian. Dan pastinya, mogok. Terpaksa saya nunggu pertolongan, sekitar 1 jam-an. sendirian. Dan saya dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini: menunggu waktu 1 jam sendirian rupanya sangat lama.
12 November 2009
Crazy Journey (part 2 of 2)
[sambungan dari sebelumnya…]
Setelah beberapa kali di hentikan lampu merah dan gadis berkerudung merah, akhirnya saya dan sepupu jauh saya sampai juga ke tujuan kedua; rumah temannya sepupu jauh saya. Sebelum memasuki pekarangan rumahnya (yang cuma setengah meter kurang), saya sudah menebak-nebak bagaimana wajah si pemilik rumah ini yang juga teman sepupu jauh saya. Beberapa wajah penghuni kebun binatang sempat berkelabat di otak, tapi dengan cepat saya buang ke tong sampah depan rumahnya.
Sekitar 10 menitan menunggu si empunya rumah, akhirnya keluar juga. Daaaaaaaaaan… wajahnyaaa… apa hendak dikata tapi tangan tak sampai, TERNYATA ORANG ARAB YANG UDAH UBANAN!!! Aaaaaaaaaa!!! Gagal deh saya ajak kawin anak perempuannya. Hehehe… (soalnya dia cerai dan anaknya dibawa istrinya, bukan karena dia orang Arab yang udah ubanan, ingat itu!)
Setelah kita salaman, basa-basi bentar dengan sepupu jauh saya, akhirnya dia masuk lagi kedalem dan keluar dengan membawa satu ceret teh hangat dan beberapa gelas mungil. Naluri binatang saya muncul. Dan dengan biadabnya saya menghabiskan teh hangat yang disajikan. Perbandingannya 3:1. Saya sudah habis tiga gelas, mereka berdua baru satu gelas. Huehehe…
Mungkin karena kelakuan saya yang bisa merugikan tuan rumah, cepat-cepat Orang Arab Teman Sepupu Jauh Saya (OATSJS) mengajak mengobrol. Setelah saling tau nama masing-masing, diapun mulai menanyakan alamat, kelas, dan lainnya. Bakat usil sayapun muncul.
OATSJS: sekarang sudah kelas berapa?
Saya: (dengan wajah stay cool) sudah semester 3. (hahahaha!!!)
OATSJS: (dengan wajah kaget) Ooh, sudah semester tiga. Kuliah dimana kamu?
Saya: di Institut Nama Disamarkan Biar Tidak Merusak Nama Baik (INDBTMNB).
Sepupu jauh saya: (tertawa dalam hati)
OATSJS: Oo, ya ya. Di INDBTMNB masuk fakultas apa?
Saya: (celingukan) emm… Adab!
OTSJS: ya-ya. Kalo’ di fakultas adab yang dipelajari apa aja?
Saya: (mulai keluar keringat dingin) em… yah pokoknya banyaklah!
Sepupu jauh saya: (tertawa ditahan)
Agar tidak terbongkar kebohongan saya, saya langsung membalik menanyakan dia.
Saya: kamu sudah berapa lama kenal dengan sepupu jauh saya ini?
OTSJS: Oh, itu sudah dulu, waktu itu bla, bla, bla…
Dan akhirnya terselamatkan juga’ kebohongan biadab saya. Huff… mana ada anak umur 16 udah kuliah di fakultas Adab? Hahaha!!! Rasain tuh!!! Kok mau-maunya dikibulin... huehehe (winner mode: ON).
Dan akhirnya malam itu berjalan seperti biasanya. Dan diapun tidak menanyakan lagi tentang diri saya.
Kira-kira setelah 1 jam disana, tentunya dengan menghabiskan teh yang disediakan, akhirnya kami mohon diri. Malu kalo’ sampe’ dibikinin lagi. Hehehe… Dan kamipun pulang dengan tenang…
Keesokan malamnya, saya kembali bertemu dengan sepupu jauh saya. Setelah basa-basi, dia bilang:
“eh, teman saya yang tadi malam nanya’ kamu lho!”
“emangnya dia lagi dimana?” Tanya saya penasaran.
“dirumah saya…” jawabnya kalem.
Perut saya mules.
11 November 2009
Crazy Journey (part 1 of 2)
Ada 2 hal yang paling saya sukai dalam perjalanan: pertama, saya suka perjalanan pada malam hari, dan kedua, kendaraan yang saya tumpangi nyaman. Pada senin malam (malam selasa) lalu, saya dan sepupu jauh saya (tellopopoh) pergi ke Sumenep dengan menggunakan sepeda bebek berwarna hitam yang ancur banget (SBBHYAB). Untungnya, mesin SBBHYAB masih bisa dikatakan bagus (walau sangat membahayakan bila dimakan), sehingga tidak terlalu mengganggu perjalanan malam itu. Dengan menggunakan kostum sarung merah, kaos hitam, dan jaket hitam plus songkok hitam (bukan nasional), saya berangkat dengan riang gembira memberantas kejahatan ke kota. Sesampainya disana, sesuai tujuan yang dituju sebelum menuju tujuan, kami langsung menuju sebuah toko hempon. yups, benar sodara-sodara, toko hempon!!!(jreeng!!!). anda tidak salah baca, sebuah toko hempon!!! (jreng jreng jreng!!!)
Penampilan saya dan sepupu jauh saya (dia pakai baju koko warna coklat muda, sarung coklat, plus kopyah nasional) rupanya mengundang ketertarikan penduduk untuk menggoda melihat kami secara teliti. Beberapa berbisik-bisik. Beberapa lagi epilepsi. Sesampainya di toko tersebut, rupanya pembeli lumayan sepi, jadi saya bisa langsung menanyakan barang yang dibutuhkan. Begini percakapan singkatnya antara saya dan Mas Yang Saya Ajak Bicara (MYSAB):
Saya (dengan gairah menggebu-gebu): mas, cari’ casing nokia n-gage. Ada?
MYSAB: hah? Apa ya mas?
Saya: anu, cari casingnya n-gage.
MYSAB: apa ya mas?
Saya: cari casingnya n-gage.
MYSAB: Hah?
Aaaaaaaaaarggh!! Rupanya penjaganya rada budek!! Maunya dilanjutkan gini aja:
SAYA MAU BELI BOM ATOM BERADIASI 10 KILOMETER. ADA?!
Tapi ga’ jadi, soalnya Noordin dah mati duluan. Jadi percakapanya berlanjut begini:
Saya: saya.cari.casing.nokia.n-gage. Ada? (dengan penekanan setiap katanya)
MYSAB: Ooo, ini mas…
Saya: saya cari’ casing mas, bukan charge mas…
MYSAB: (diam)
Saya: (diam)
Setelah sekitar 5 menitan, akhirnya saya berani menyimpulkan: Rupanya nih orang selain budek, otaknya rada lemot!! Aaaaaaaaaaarrgh!!
MYSAB: Ooo, casing mas, ini mas… (sambil menyodorkan setumpuk casing n-gage)
Saya: (misuh-misuh)
Setelah selesai melihat casingnya (yang rupanya ga’ ada yang cocok), saya langsung ngajak sepupu jauh saya untuk segera meninggalkan toko. Walaupun sebenarnya masih butuh beberapa barang lagi. Yah, mengingat penjaganya, saya langsung bad mood duluan.
Karena ga’ dapet barang yang diincar, maka kami langung saja menaiki SBBHYAB dengan gagah berani menelusuri jalanan kota...
[bersambung…]



